Senin, 17 November 2014

MEWASPADAI CEMARAN ARSENIK PADA PADI



       BELUM lama ini, diberitakan di beberapa media nasional tentang dugaan adanya cemaran arsenik pada beras impor dari Thailand. Masih dalam ingatan kita, meninggalnya pejuang HAM nasional Munir, karena terpapar arsenik dalam jumlah tinggi. Berita adanya cemaran arsenik pada beras impor bukan berita baru, setidaknya media Jurnal Nasional sudah pernah menurunkan berita serupa pada Januari 2011.
Saat itu, disebutkan bahwa adanya dugaan cemaran arsenik pada beras impor yang berasal dari Vietnam membuat pemerintah dalam hal ini kementerian pertanian berjanji dan siap untuk melakukan kajian

Hampir dua tahun berjalan setelah berita tersebut, penulis tidak menemukan adanya penelitian atau laporan yang menyebutkan analisis kandungan arsenik pada beras impor. Tulisan ini diharapkan dapat mengingatkan kembali pihak-pihak terkait untuk kembali memberikan perhatian yang serius adanya cemaran/kontaminan arsenik pada beras.
 

Mengapa ada (dugaan)arsenic pada beras???


Dugaan adanya cemaran arsenik pada beras, dimulai adanya laporan penelitian yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciencesof the United States of America (PNAS) edisi 25 Januari 2011 dengan judul artikel Arsenic pollution of groundwater in Vietnam exacerbated by deep aquifer exploitation for more than a century. Dalam artikel tersebut disebutkan bahwa di DeltaSungai Merah (Red River Delta) ditemukan jumlah cemaran logam-logam toksik dalam jumlah yang mengkhawatirkan seperti mangan, selenium, dan arsenik.

Kandungan arsenikditemukan pada lokasi ini dapat dikhawatirkan dapat mencemari daerah pertanian yang terdapat di bagian Utara Vietnam. Seperti diketahui bahwa Delta Sungai Merah adalah dataran yang terbentuk oleh Sungai Merah di bagian Utara Vietnam. Daerah ini memiliki tingkat kepadatan jumlah penduduk yang tinggi dan sebagian besar lahan dikhususkan untuk budidaya padi. Kandungan arsenikditemukan pada lokasi ini dapat dikhawatirkan dapat mencemari daerah pertanian yang terdapat di bagian Utara Vietnam. Seperti diketahui bahwa Delta Sungai Merah adalah dataran yang terbentuk oleh Sungai Merah di bagian Utara Vietnam. Daerah ini memiliki tingkat kepadatan jumlah penduduk yang tinggi dan sebagian besar lahan dikhususkan untuk budidaya padi.

Meskipun sumber irigasi pertanian di Vietnam berasal dari air sungai, tidak dapat dipungkiri kemungkinan adanya cemaran air tanah pada air sungai yang digunakan untuk pengairan lahan pertanian di bagian utara Vietnam. Adanya oksidasi sedimen Pleistocene dapat meningkatkan jumlah arsenik pada air tanah sehingga diduga menjadi sumber cemaran yang dapat mencemari air sungai untuk irigasi budidaya padi. Berkaca dari laporan penelitian di Vietnam bahwa terjadinya peningkatan jumlah arsenik yang diakibatkan oleh oksidasi sedimen Pleistocene pada air tanah, maka langkah pertama yang dilakukan adalah memastikan bahwa sumber pengairan untuk penanaman padi di Indonesia tidak berasal dari air tanah. Selain itu, memastikan bahwa sumber air untuk pengairan budidaya padi di Indonesia tidak berasal dari daerah-daerah yang memiliki kemiripan dengan daerah DeltaSungai Merah. Tindakan awal ini dilakukan sebagai upaya preventif agar kemungkinan kontaminasi arsenik dapat dicegah sejak dini yaitu dengan memperhatikan sumber air untuk irigasi.

Langkah berikutnya adalah melakukan analisis kandungan arsenik pada beras yang berasal dari beberapa daerah pertanian di Indonesi baik di pulau Jawa maupun luar Jawa. Analisis ini diperlukan untuk mengetahui peta kemungkinan adanya cemaran arsenik beras lokal.

Dua langkah berikutnya yang penting dan segera dilakukan oleh lembaga-lembaga terkait untuk menghindari adanya isu-isu cemaran arsenik beras impor adalah melakukan kajian/analisis dan verifikasi analisis cemaran arsenik beras impor. Sampaikan secara terbuka kepada publik bahwa memang benar pemerintah tidak melakukan impor beras yang diduga mengandung cemaran arsenik. Tindakan verifikasi analisis oleh lembaga terpercaya dan pemantauan dilakukan oleh lembaga yang berkompeten di tanah air, seperti BPOM atau lembaga lainnya untuk memastikan beras yang diimpor benar-benar terbebas dari arsenik.

 



http://itp.bakrie.ac.id/index.php/id/lang-en-articles-lang-lang-id-artikel-lang/lang-en-food-articles-lang-lang-id-artikel-pangan-lang/item/47-mewaspadai-cemaran-arsenik-pada-beras

Tidak ada komentar:

Posting Komentar